SISTEM
FONOLOGI DAN EJAAN BAHASA INDONESIA
Fonologi adalah ilmu yang
membelajari sistem bunyi bahasa Indonesia. Fonologi dalam tuturan ilmu
bahasa dibagi menjadi dua bagian, yaitu, (1) Fonetik, yaitu ilmu
bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam
tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan (2)
Fonemik, yaitu ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai
pembeda makna. Tiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan
arti. Bunyi ujaran yang dapat membedakan arti disebut fonem.
1. Fonemik
Sebagaimana pengertian fonemik
di atas, bahwa ilmu ini membahas bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Tentu
saja kita harus memahami fonem dan grafem.
Untuk membantu Anda dalam memahami
struktur fonem, dan perbedaan antara fonem dan grafem (huruf)
perhatikanlah contoh yang tertera dalam tabel berikut.
|
Susunan Fonem
|
Jumlah Fonem
|
Susunan Huruf
|
Jumlah Huruf
|
Kata yang Terbentuk
|
|
/adik/
|
4
|
Adik
|
4
|
Adik
|
|
Ingat/
|
4
|
Ingat
|
5
|
Ingat
|
|
/nyanyi/
|
4
|
Nyanyi
|
6
|
Nyanyi
|
|
/pantai/
|
5
|
pantai
|
6
|
pantai
|
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi
ada 32 buah fonem, yang terdiri atas:
a)
Fonem vokal 6 buah; /a/, /i/, /u/, /e/, /o/
b)
Fonem diftong 3 buah: /oy/, /ay/, /ou/
c)
Fonem konsonan 23 buah: /p/, / b/ , / m/ , / t/ , / d/ , / n/ , / c/ , / j/ , /
ng/ , / k/ , / g/ , /ny/ , / y/, / r/ , / l/ , / w/ , / s/ , / sh/ , / z/ , /
f/ , / h/ , / x/ , dan / z/
Struktur suku kata bahasa Indonesia
mengalami perkembangan yang sangat pesat, dengan masuknya unsur serapan. Untuk
jelasnya suku kata bahasa Indonesia, seperti berikut.
|
Struktur
|
Suku Kata
|
|
1)
KVKKK2) KKVKK
3)
KKKVK
4)
KKKV
5)
KVKK
6)
KKVK
7)
KKV
8)
KV
9)
VK
10) V
|
KorpsPleks pada kata kompleks
Struk pada kata struktur
Stra pada kata strata
Teks pada kata tekstil
Spon pada kata spontan
Gra, pla pada kata granat, planet
Ku, da, la, ri, ta, di, ti, ba (
contoh ini banyak sekali)
Il, in, pada kata ilmu, indah
O pada kata obat, u pada kata
ukur.
|
2. Fonetik
Fonetik membahas bunyi-bunyi bahasa
yang dihasilkan oleh alat ucap manusia , serta bagaimana bunyi itu
dihasilkan. Untuk itu ada tiga macam alat ucap yang berkenaan ddengan
bunyi ujaran.
1)
Udara adalah yang dialirkan ke luar dari paru-paru ketika berbicara.
2)
Artikulator adalah bagian alat ucap yang dapat digerakkan/digeser ketika
bunyi diucapkan.
3)
Titik Artikulasi adalah bagian alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari
artikulator. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut. (a)
Alat-alat ucap manusia, (b) Bagan yang berikut alat ucap yang digunakan
dalam pembentukan bunyi bahasa
Keterangan:
(1)
Bibir atas
(2)
Bibir bawah
(3)
Gigi atas
(4)
Gigi bawah
(5)
Gusi (alveolum)
(6)
Langit-langit keras (palatum)
(7)
Langit-langit lunak (velum)
(8)
Anak tekak (uvula)
(9)
Ujung lidah
(10)
Daun lidah
(11)
Depan lidah
(12)
Belakang lidah
(13)
Akar lidah
(14)
Epiglotis
(15)
Pita suara
(16)
Faring
(17)
trakea
Jika bunyi ujaran yang ke luar
dari paru-paru tidak dapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi
vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan tergantung pada beberapa hal berikut.
1)
Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
2)
Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan
bunyi)
3)
Maju mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan elveolum atau lengkuk
kaki gigi)
Untuk itu perhatikan diagram
vokal berikut ini.
|
Depan
|
Pusat
|
Belakang
|
|
|
Atas
|
I
|
-
|
U
|
|
Tengah
|
E
|
E
|
O
|
|
Bawah
|
-
|
a
|
-
|
Jika bunyi ujaran, ketika udara ke
luar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan
yang dijumpai bermacam-macam, ada hubungan yang bersifat
seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser atau
mengadukkan arus suara sehingga menghasilkan konsonan bermacam-macam pula.
Untuk itu, perhatikan berikut ini.
|
DaerahArtikulasi
Cara
Artikulasi
|
Bilabial
|
Labiodental
|
Dental/ Alveolar
|
palatal
|
Velar
|
glotal
|
|
Hambat tak bersuaraBersuara
|
P,b
|
t,d
|
c,j
|
k,g
|
?
|
|
|
Firkatif tak bersuaraBersuara
|
f
|
s,z
|
sy
|
X
|
h
|
|
|
Nasal bersuaraBersuara
|
m
|
n
|
ny
|
Ng
|
||
|
Getar bersuaraBersuara
|
R
|
|||||
|
Lateral bersuaraBersuara
|
I
|
|||||
|
Semivokal bersuaraBersuara
|
w
|
y
|
Berdasarkan tabel di atas dapat kita
cermati pembagian fonem konsonan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini.
1) Konsonan
hambat, bersuara, bilabial : b
2)
Konsonan hambat, tak bersuara, bilabial p
3)
Konsonan nasal, bersuara, bilabial: m , dan seterunya
3. Intonasi
Jika kita memperhatikan dengan
cermat, bicara seseorang maka arus ujaran yang sampai ke telinga pendengar,
kedengarannya seperti ombak-ombak. Hal ini terjadi karena bagian-bagian
dari arus ujaran tidak sama nyaringnya ketika diucapkan. Ada bagian yang
diucapkan lebih keras, ada bagian yang diucapkan lembut, dan ada lagi
bagian yang lebih tinggi, serta ada bagian yang lebih rendah; Ada
bagian yang diucapkan cepat, dan ada yang lambat, dan seterusnya. Keseluruhan
dari gejala itu disebut intonasi. Menurut Gorys Keraf (1984:40) mengatakan
bahwa intonasi adalah kerja sama antara nada, tekanan, durasi dan
penghentian-penghentian yang menyertai suatu tutur dari awal sampai akhir.
Contoh:
Ibu kehilangan sapu tangan.
(intonasi berita)
Di mana kamu tinggal? (intonasi
tanya)
Mari, kita berangkat bersama!
(ajakan)
Jawablah pertanyaan berikut!
(perintah)
Nah, begitulah jawabnya! (seruan)
4. Ejaan
Peraturan pertama untuk ejaan bahasa
Indonesia yang pada saat itu disebut bahasa Melayu ialah peraturan ejaan
yang lazimnya disebut Ejaan Van Ophuysen, yang mulai berlaku pada tahun
1901. Peraturan ini dimuat dalam buku Ch. A. Van Ophuysen yang dinamakan Kitab
Logat Melajoe.
Untuk mendapat gambaran akan
perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam ejaan Van Ophuysen dengan ejaan yang
berlaku sekarang, dapat dilihat pada contoh berikut ini.
|
Ejaan Van Ophuysen
|
Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan
|
|
Elok, tengger
Oupah
Chabar
Njawa
Sjahbandar
Djahid
Tjutji
Ta’
Ma’na
Menama’i
Ma’af
|
Elok, tengger
Upaya
Khabar
Nyawa
Syahbandar
Jahit
Cuci
Tak
Makna
Menamai
Maaf
|
Setelah ejaan Van Ophuysen berlaku,
lalu tahun 1945 negara Indonesia Merdeka dan mempunyai Menteri
Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan yang bernama Mr. Soewandi. Pada
tahun 1947 menteri tersebut mengeluarkan surat keputusan tertanggal 19
Maret 1947, Nomor 264/Bhg. A Lampiran mengenai ejaan pada surat
keputusan itu diperbaruinya dengan lampiran pada surat Keputusan No. 345/Bhg. A
tertanggal 1 April 1947 itu, biasanya dinamai Eajaan republik, atau
kadang-kadang disebut juga Ejaan Suwandi.
Perubahan-Perubahan yang sangat
hakiki dalam Ejaan republik, antara lain:
|
Ejaan
Van Ophuysen
|
Ejaan
Republik (Ejaan Suwandi)
|
|
Ekor
Oepaya
Ta’
Ma’na
Disukai
Soal
Boekoe
boeku
|
Ekor
Upaya
Tak
Makna
Disukai
Soal
Buku-buku
atau buku2
|
Setelah itu bahasa Indonesia
berkembang dengan pesat akhirnya ada kesepakatan bersama antara Indonesia
dengan Persekutuan Tanah Melayu, khususnya tangaal 17 April 1959. Berdasarkan
kesepakatan itu pada tanggal 4-7 Desember 1959 di Jakarta diusulkan ada ejaan
bersama antara kedua negara tersebut dengan nama Ejaan Melayu Indonesia atau
disingkat dengan Ejaan Melindo. Karena kesepakatan itu tidak dijalankan oleh
kedua negara akhirnya batal pelaksanaan Ejaan Melindo. Akhirnya
pada tahun 1992 terbitlah surat Keputusan Menteri No. 6/U/1972, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan menginstruksikan kepada: (1) Semua koordinator
Perguruan Tinggi, (2) Semua universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi
dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya mulai
tangal 17 Agustus 1972 EYD diresmikan pemakaiannya.
Perubahan yang prinsip
Ejaan Yang Disempurnakan dari Ejaan Republik sebagai berikut.
|
No.
|
Ejaan
Republik
|
EYD
|
|
1.2.
3.
4.
5.
6.
7
|
Tj
Dj
Nj
(f,
v)
(z)
(ch)
j
|
c
j
ny
f,
v
z
kh
y
|
Ejaan yang berlaku dalam bahasa
Indonesia saat ini adalah ejan yang disempurnakan (EYD), yang diresmikan penggunaannya
pada tanggal 17 Agustus 1972, yang sebelumnya menggunakan Ejaan republik (atau
Ejaan Suwandi). Sekarang EYD yang berlaku adalah yang terbaru yakni EYD
berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 46 tahun 2009.
Tujuan penyempurnaan ejaan tersebut
adalah:
1)
Menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembangan bahasa Indonesia.
2)
Membina ketertiban dalam penulisan huruf dan tanda baca.
3)
Usaha pembakuan bahasa Indonesia.
4)
Mendorong pengembangan bahasa Indonesia.
Dalam ejaan bahasa Indonesia
yang disempurnakan terdiri atas lima pembahasan.
1)
Pemakaina Huruf (abjad, vokal, diftong, konsonan, persukuan dan nma diri)
2)
Penulisan Huruf (huruf kapital, dan huruf miring, huruf tebal)
3)
Penulisan Kata (kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabung, kata depan,
partikel, angka dan bilangan)
4)
Tanda Baca
5)
Penulisan Unsur Serapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar