Selasa, 15 April 2014

RAGAM BAHASA




RAGAM BAHASA 


Materi Pokok

Jika kita mempelajari ragam bahasa tentu ada beberapa  ragam di antaranya adalah ragam bahsa resmi, ragam bahasa tidak resmi,  ragam bahasa ilmiah,  ragam bahasa sastra, ragam bahasa lisan, ragam  ragam bahasa tulis.

1. Ragam Bahasa Resmi

Marilah kita ingat kembali, landasan historis dan landasan yuridis yang kuat bagi bahasa Indonesia. Landasan pertama dapat kita lihat pada dokumen historis, yakni tercantum dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sedangkan landasan yuridis dapat kita lihat dalam UUD 1945.
Bertdasarkan kedua landasan itu bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Nasional dan bahasa Negara. Sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia berfungsi (1)  lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3)  alat yang  memungkinkan penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang  sosial budaya dan bahasanya ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia, dan (4) alat perhubungan antardaerah dan antarsuku. Di  dalam kedudukannya  sebagai  bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi: (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di lembaga pendidikan, (3) alat perhubungan tinkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembengunan serta pemerintahan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.
Bertolak dari landasan kedua di atas, bahasa resmi adalah bahasa yang digunakan oleh pembicara (orang pertama0 dan lawan berbicara (orang kedua) dalam situasi resmi atau pada tingkat formalitas penuturan.

2. Ragam Bahasa Tak Resmi

Sebenarnya, Anda mengetahui ragam bahasa tak resmi, karena pada hakekatnya  dalam penjelasan ragam bahasa resmi  sudah tercermin ragam bahasa tak resmi. Hal ini disebabkan oleh ukuran penentu resmi dan tidak resmi  merupakan balikan positif dan negatif.
Jadi, ragam bahasa tak resmi adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi antara pembicara dengan lawan bicara yang telah melepaskan kedudukan, hak, dan  kewajibannya karena hubungan personalatau disebut interaksi  personal.

3. Ragam Bahasa Ilmiah

Ragam bahasa ilmiah semata-mata ditujukan kepada lingkungan keahlian tertentu yang bertumpu pada  pengetahuan yang diperolehnya dengan pendekatan ilmiah, dengan langkah-langkah yang ajeg, teratur, terkontrol,  dan terpolakan yang diakui oleh ilmu tersebut. Pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi  hampir  setiap orang, karena pendekatan tersebut tidak diwarnai oleh  keyakinan individu, bias, dan perasaan. Cara penyimpulannya  bukan bersifat subjektif, melainkan objektif. Jadi dengan pendekatan ilmiah, manusia berusaha  untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan yang benar, yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang menghendaki untuk mengujinya.
Bahasa ilmiah adalah  bahasa pikiran yang sungguh-sungguh, karena yang disampaikan merupakan aktivitas pikiran, ditujukan kepada pikiran dan ditangkap dengan pikiran pula. Oleh sebab itu, bahasa yang dipergunakan terbebas dari unsur-unsur emotif. Baasa ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila si pembicara  menyampaikan  informas berupa X si lawan bicara harus menerima X pula.
Demikian juga, dalam bahasa ilmiah hampir setiap kata dan kalimat digunakan secermat-cermatnya agar serasi benar dengan pengertian-pengertian yang akan dikomunikasikan. Dengan demikian ragam bahasa ilmiah seakan-akan foto dari aktivitas pikiran  yang dapat dipertanggungjawabkan.

4. Ragam Bahasa Sastra

Ragam bahasa sastra adalah salah satu ragam bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, fantasi dan imajinasi, penghayatan batin dan lahir, peristiwa/ kejadian dan khayalan dengan bentuk-bentuk bahasa menurut tatanan khusus  dalam penuturannya. Kekhususan tataran itu bukan karena rancak dan sedapnya didengar/dibaca, melainkan karena kekuatan efeknya kepada pendengar/ pembaca  dan karena cara penuturannya. Fungsi bahasa dalam ragam ini dapat dipakai sebagai bahan aktivitas seni dan sebagai alat komunikasi.
Untuk memperbesar efek penuturannya, biasanya sastrawan mengerahkan segala kemampuan yang ada dalam bahasa itu baik sebagai bahan maupun sebagai alat komunikasi. Misalnya untuk mempertinggi efek penuturan, sastrawan dapat menggunakan arti, bunyi, asosiasi, irama, tekana, suara, persesuaian bunyi kata, sajak, asonansi, aliterasi ulangan kata/kalimat, dsb. Dalam ragam ini ada kata khusus yang dipakai dalam aktivitas seni tersebut, misalnya kata bayu, bahari, juita , dsb.

5. Ragam Bahasa Lisan

Ragam bahasa lisan adalah ragam  bahasa tutur yang dipakai dalam peristiwa tutur lisan: antara pembicara dengan lawan bicara melalui proses yang terjadi  pada diri merekan – perjalanan tutur  dari pembicara kepada lawan bicara  dan melalui proses penghayatan  tutur oleh lawan bicara yang berlangsung pada tempat  dan waktu yang relatif bersamaan; sehingga unsur-unsur spontanitas, situasi penuturan, dan unsur gejala jiwa sangat berpengaruh dalam struktur bahasa yang digunakan. Misalnya, pmakaian struktur kalimat sering kali kurang sempurna/tidak gramatikal, karena penutur tanpa banyak berpikir dan dapat dibantu dengan gerakan-gerakan  anggota tubuh, intonasi, mimik, dan sebaginya.

6. Ragam Bahasa Tulis

Secara historis, kehadiran bahasa tulis lebih kemudian  kalau dibandingkan dengan bahasa lisan. Alfabet untuk mewakili bunyi bahasa baru ditemukan sekitar tahun 1700 sebelum masehi. Oleh karena itu, bahasa tulis  bentuk sekedarnya bahasa merupakan tiruan atau gambar dari bahasa lisan.
Apabila dibandingkan dengan peristiwa tutur lisan, peristiwa tutur lisan dalam proses pemakaian bahasa unsur-unsur spontanitas bertutur tidak atau sedikit terjadi; situasi penuturan  dialihkan pada penggunaan kata-kata, struktur kalimat yang jelas-tegas, dan penggunaan tanda-tanda baca yangtepat guna  atau berhasil guna sebagai pengganti  intonasi; sedankan unsur gejala jiwa dalam pemakaian  bahasa tulis yang paling dominan adalah pikiran, bukan unsur perasaan. Oleh karena itu, ragam bahasa tulis lebih hati-hati dalam pemakaian  bahasa  kalau dibandingkan  dengan ragam bahasa lisan, sehingga kebakuan bahasa dalam ragam tulis relatif lebih dominan daripada  ragam bahasa lisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar