Selasa, 15 April 2014

SISTEM FONOLOGI DAN EJAAN BAHASA INDONESIA



SISTEM FONOLOGI DAN EJAAN BAHASA INDONESIA
 

Fonologi adalah ilmu yang membelajari sistem bunyi bahasa Indonesia. Fonologi  dalam tuturan ilmu bahasa  dibagi menjadi dua bagian, yaitu, (1) Fonetik, yaitu  ilmu bahasa yang membahas  tentang bunyi-bunyi ujaran  yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu  dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan (2) Fonemik, yaitu ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Tiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran  yang dapat membedakan arti disebut fonem.

1. Fonemik

Sebagaimana pengertian  fonemik di atas, bahwa ilmu ini membahas bunyi bahasa yang dapat membedakan arti. Tentu saja kita harus memahami fonem dan grafem.
Untuk membantu Anda dalam memahami struktur fonem, dan perbedaan  antara fonem dan grafem (huruf) perhatikanlah contoh yang tertera dalam tabel berikut.

Susunan Fonem
Jumlah Fonem
Susunan Huruf
Jumlah Huruf
Kata yang Terbentuk
/adik/
4
Adik
4
Adik
Ingat/
4
Ingat
5
Ingat
/nyanyi/
4
Nyanyi
6
Nyanyi
/pantai/
5
pantai
6
pantai

Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas:
a)      Fonem vokal  6 buah; /a/, /i/, /u/, /e/, /o/
b)      Fonem diftong 3 buah: /oy/, /ay/, /ou/
c)       Fonem konsonan 23 buah: /p/, / b/ , / m/ , / t/ , / d/ , / n/ , / c/ , / j/ , / ng/ , / k/ , / g/ , /ny/ , / y/, / r/ , / l/ , / w/ , / s/ , / sh/ , / z/ , / f/ , / h/ , / x/ , dan / z/
Struktur suku kata bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, dengan masuknya unsur serapan. Untuk jelasnya suku kata bahasa Indonesia, seperti berikut.

Struktur
Suku Kata
1)      KVKKK2)      KKVKK
3)      KKKVK
4)      KKKV
5)      KVKK
6)      KKVK
7)      KKV
8)      KV
9)      VK
10)   V
KorpsPleks pada kata kompleks
Struk pada kata struktur
Stra pada kata strata
Teks pada kata tekstil
Spon pada kata spontan
Gra, pla pada kata granat, planet
Ku, da, la, ri, ta, di, ti, ba ( contoh ini banyak sekali)
Il, in, pada kata ilmu, indah
O pada kata obat, u pada kata ukur.


2. Fonetik

Fonetik membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia , serta  bagaimana bunyi itu dihasilkan. Untuk itu ada tiga macam alat ucap  yang berkenaan ddengan bunyi ujaran.
1)      Udara adalah yang dialirkan ke luar dari paru-paru ketika berbicara.
2)      Artikulator adalah bagian alat ucap  yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan.
3)      Titik Artikulasi adalah bagian alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari artikulator. Untuk lebih jelasnya, perhatikan  gambar berikut. (a)  Alat-alat ucap manusia, (b) Bagan  yang berikut alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi bahasa
Keterangan:
(1)             Bibir atas
(2)             Bibir bawah
(3)             Gigi atas
(4)             Gigi bawah
(5)             Gusi (alveolum)
(6)             Langit-langit keras (palatum)
(7)             Langit-langit lunak (velum)
(8)             Anak tekak (uvula)
(9)             Ujung lidah
(10)         Daun lidah
(11)         Depan lidah
(12)         Belakang lidah
(13)         Akar lidah
(14)         Epiglotis
(15)         Pita suara
(16)         Faring
(17)         trakea

Jika bunyi ujaran yang ke  luar dari paru-paru tidak dapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan tergantung pada  beberapa hal berikut.
1)      Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
2)      Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi)
3)      Maju mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan elveolum atau lengkuk kaki gigi)
Untuk itu perhatikan  diagram vokal berikut ini.


Depan
Pusat
Belakang
Atas
I
-
U
Tengah
E
E
O
Bawah
-
a
-

Jika bunyi ujaran, ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai  bermacam-macam, ada hubungan  yang bersifat seluruhnya, dan ada pula  yang sebagian yaitu dengan menggeser  atau mengadukkan arus suara sehingga menghasilkan konsonan bermacam-macam pula. Untuk itu, perhatikan berikut ini.

DaerahArtikulasi
Cara
Artikulasi
Bilabial
Labiodental
Dental/ Alveolar
palatal
Velar
glotal
Hambat tak bersuaraBersuara
P,b

t,d
c,j
k,g
?
Firkatif tak bersuaraBersuara

f
s,z
sy
X
h
Nasal bersuaraBersuara
m

n
ny
Ng

Getar bersuaraBersuara


R



Lateral bersuaraBersuara


I



Semivokal bersuaraBersuara
w


y



Berdasarkan tabel di atas dapat kita cermati pembagian fonem konsonan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini.
1)      Konsonan hambat, bersuara, bilabial : b
2)      Konsonan hambat, tak bersuara, bilabial p

3)      Konsonan nasal, bersuara, bilabial: m , dan seterunya

3. Intonasi

Jika kita  memperhatikan dengan cermat, bicara seseorang maka arus ujaran yang sampai ke telinga pendengar, kedengarannya seperti ombak-ombak. Hal ini terjadi karena  bagian-bagian dari arus ujaran tidak sama nyaringnya ketika diucapkan. Ada bagian yang diucapkan lebih keras, ada bagian yang diucapkan lembut, dan ada lagi bagian  yang lebih tinggi, serta ada bagian  yang lebih rendah; Ada bagian yang diucapkan cepat, dan ada yang lambat, dan seterusnya. Keseluruhan dari gejala itu disebut intonasi. Menurut Gorys Keraf (1984:40) mengatakan bahwa intonasi adalah kerja sama  antara nada, tekanan, durasi dan penghentian-penghentian yang menyertai suatu tutur dari awal sampai akhir.
Contoh:
Ibu kehilangan sapu tangan.  (intonasi berita)
Di mana kamu tinggal? (intonasi tanya)
Mari, kita berangkat bersama! (ajakan)
Jawablah pertanyaan berikut! (perintah)
Nah, begitulah jawabnya! (seruan)

 4. Ejaan

Peraturan pertama untuk ejaan bahasa Indonesia yang pada saat itu  disebut bahasa Melayu ialah peraturan ejaan yang lazimnya disebut Ejaan Van Ophuysen, yang mulai berlaku  pada tahun 1901. Peraturan ini dimuat dalam buku Ch. A. Van Ophuysen yang dinamakan Kitab Logat Melajoe.
Untuk mendapat gambaran akan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam ejaan Van Ophuysen dengan ejaan yang berlaku sekarang, dapat dilihat pada contoh berikut ini.
Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
Elok, tengger
Oupah
Chabar
Njawa
Sjahbandar
Djahid
Tjutji
Ta’
Ma’na
Menama’i
Ma’af
Elok, tengger
Upaya
Khabar
Nyawa
Syahbandar
Jahit
Cuci
Tak
Makna
Menamai
Maaf
Setelah ejaan Van Ophuysen berlaku, lalu tahun 1945 negara Indonesia Merdeka dan mempunyai  Menteri  Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan yang bernama Mr. Soewandi.  Pada tahun 1947 menteri tersebut  mengeluarkan surat keputusan tertanggal 19 Maret 1947, Nomor 264/Bhg. A Lampiran mengenai  ejaan  pada surat keputusan itu diperbaruinya dengan lampiran pada surat Keputusan No. 345/Bhg. A tertanggal 1 April 1947 itu, biasanya dinamai Eajaan republik, atau kadang-kadang disebut juga Ejaan Suwandi.
Perubahan-Perubahan yang sangat hakiki dalam  Ejaan republik, antara lain:
Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Republik (Ejaan Suwandi)
Ekor
Oepaya
Ta’
Ma’na
Disukai
Soal
Boekoe boeku
Ekor
Upaya
Tak
Makna
Disukai
Soal
Buku-buku atau buku2

Setelah itu  bahasa Indonesia berkembang dengan pesat akhirnya ada kesepakatan bersama antara Indonesia dengan Persekutuan Tanah Melayu, khususnya tangaal 17 April 1959. Berdasarkan kesepakatan itu pada tanggal 4-7 Desember 1959 di Jakarta diusulkan ada ejaan bersama antara kedua negara tersebut dengan nama Ejaan Melayu Indonesia atau disingkat dengan Ejaan Melindo. Karena kesepakatan itu tidak dijalankan oleh kedua negara akhirnya batal pelaksanaan  Ejaan Melindo. Akhirnya pada  tahun 1992 terbitlah surat Keputusan Menteri No. 6/U/1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menginstruksikan kepada: (1) Semua koordinator Perguruan Tinggi, (2) Semua universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi dalam lingkungan Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya mulai tangal 17 Agustus 1972 EYD diresmikan pemakaiannya. 
Perubahan yang prinsip Ejaan Yang Disempurnakan dari Ejaan Republik sebagai berikut.
No.
Ejaan Republik
EYD
1.2.
3.
4.
5.
6.
7
Tj
Dj
Nj
(f, v)
(z)
(ch)
j
c
j
ny
f, v
z
kh
y

Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini adalah ejan yang disempurnakan (EYD), yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Agustus 1972, yang sebelumnya menggunakan Ejaan republik (atau Ejaan Suwandi). Sekarang EYD yang berlaku adalah yang terbaru yakni EYD berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 46 tahun 2009.

Tujuan penyempurnaan ejaan tersebut adalah:
1)      Menyesuaikan ejaan bahasa Indonesia dengan perkembangan bahasa Indonesia.
2)      Membina ketertiban dalam penulisan huruf dan tanda baca.
3)      Usaha pembakuan bahasa Indonesia.
4)      Mendorong pengembangan bahasa Indonesia.

Dalam  ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan terdiri atas lima pembahasan.
1)      Pemakaina Huruf (abjad, vokal, diftong, konsonan, persukuan dan nma diri)
2)      Penulisan Huruf (huruf kapital, dan huruf miring, huruf tebal)
3)      Penulisan Kata (kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata gabung, kata depan, partikel, angka dan bilangan)
4)      Tanda Baca
5)      Penulisan Unsur Serapan